Di zaman yang serba cepat dan instan seperti sekarang, keteladanan yang baik sulit sekali ditemukan. Makin sedikit tokoh yang bisa memberikan teladan baik bagi generasi masa kini. Namun, sebagai umat muslim kita memiliki banyak tokoh yang bisa diteladani, khususnya nabi-nabi kita. Nabi Ibrahim as adalah salah satu yang terbaik. Kisah Nabi Ibrahim bukan hanya sekadar sejarah, tetapi juga buku yang bisa dipelajari dan masih sangat relate dengan kondisi sekarang. Hidup beliau adalah tentang iman, ketaatan, pengorbanan, dan cara menjadi orang tua yang luar biasa.
Nabi Ibrahim as bukan nabi biasa, namanya selalu masuk daftar utama untuk dikisahkan, lagi dan lagi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengorbankan anaknya demi menaati Allah Swt? Dari satu peristiwa ini saja kita sebagai muslim sudah bisa belajar banyak. Untuk itu, yuk gali lebih dalam teladan luar biasa dari Bapak Para Nabi ini dalam kehidupan kita sehari-hari!
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”
(QS. Annisa: 125)
Teladan dari Kisah Nabi Ibrahim as
Dalam Al-Qur’an, nama Nabi Ibrahim diabadikan menjadi satu surah tersendiri. Selain itu, nama beliau juga disebut sebanyak 69 kali di 24 surah dalam Al-Qur’an. Julukan Bapak Para Nabi pun tersemat pada namanya. Sebab, dari 25 nabi dalam Islam, 19 di antaranya adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Baca juga: Mukjizat Nabi Ibrahim AS
Mungkin sebagian orang juga tak sadar bahwa nama Nabi Ibrahim selalu kita sebut setiap kali salat. Tentu ada hikmah dan makna mendalam di baliknya. Memang apa saja sih teladan dari kisah Nabi Ibrahim yang bisa kita ambil?
1. Punya Semangat Tinggi untuk Mencari Kebenaran
Meski Nabi Ibrahim seorang anak yang dibesarkan oleh ayah yang bekerja sebagai pematung berhala, namun makin dewasa ia tidak percaya begitu saja pada patung-patung yang disembah. Dengan semangat dan rasa ingin tahu Nabi Ibrahim yang tinggi, ia belajar dan berpikir tentang Ketuhanan hingga akhirnya menemukan Allah Swt sebagai Tuhan yang sebenar-benarnya. Ia haus akan kebenaran dan tidak pernah menyerah saat mencari mana yang ia anggap sebagai kebenaran.
2. Menggunakan Rasionalitas dalam Mencari Kebenaran
Ibrahim adalah sosok yang rasional dalam mencari kebenaran. Saat mencari dan mengenal Tuhan, ia sempat bertanya-tanya apakah Tuhannya adalah matahari, bulan, atau alam semesta ini? Ia tidak meyakini berhala-berhala yang dibuat ayahnya sebagai Tuhan. Karena, baginya hal tersebut tidak masuk akal. Benda mati tidak bisa berbuat apa pun dan tidak bisa menguasai dirinya.
Sedangkan, saat Ibrahim mulai memahami hakikat dari Tuhan dan Pencipta, Allah Swt pun memberikan petunjuk bahwa Tuhan adalah Allah Swt. Tiada lain yang menciptakan alam semesta dan tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh manusia, karena Tuhan memiliki sifat imateriel yang berbeda dengan manusia.
3. Sabar dalam Menghadapi Ujian
Berkali-kali Ibrahim diuji oleh Allah Swt. Mulai dari Ayahnya yang tidak mau ikut meyakini Allah Swt, sulit mendapat keturunan, dan yang lainnya. Namun, kesabarannya itu membuat Nabi Ibrahim dikaruniai dua orang istri, yaitu Siti Hajar dan Siti Sarah, yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan salih dan menjadi penerusnya dalam menyebarkan kebenaran.
4. Menempatkan Allah Swt di Atas Segalanya
Keyakinannya pada Allah Swt membuat Ibrahim menjadikan Dia satu-satunya tujuan dalam hidup. Nabi Ibrahim juga membuktikan bahwa ia adalah hamba yang takwa dan teguh beriman hanya kepada Allah Swt. Ismail yang menjadi putra kesayangan Ibrahim pun rela dikurbankan demi menaati perintah Allah Swt. Begitu pula dengan Ismail.
Nabi Ibrahim dan Ismail adalah bukti ketakwaan paripurna. Kecintaan pada keluarga, manusia, tidak boleh mengalahkan kecintaan terhadap Allah Swt. Tentunya hal ini sangat berat dan belum tentu semua manusia bisa menghadapinya. Namun, mereka berdua pantas menjadi seorang nabi dan namanya diabadikan Al-Qur’an karena ketakwaan yang kuat.
5. Mengabdikan Diri di Jalan Kebenaran
Setelah mengetahui kebenaran, Ibrahim tak lantas berdiam diri. Ia pun mendakwahkan kepada lingkungannya, mengajak masyarakat untuk ikut serta bersamanya dalam jalan yang lurus. Ia juga menjadi pemimpin negeri yang adil dan berusaha untuk membawa negerinya menjadi adil dan makmur. Hal ini seperti doa Nabi Ibrahim yang terbadikan dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,”’Dia (Allah) berfirman, ‘Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. Al Baqarah: 126)
Semoga, kita dapat meneladani kisah Nabi Ibrahim untuk menjadi manusia yang cinta akan kebenaran, selalu meningkatkan ketakwaan, menjadikan Allah Swt sebagai tujuan, dan mengabdikan diri untuk negeri yang baik. Walaupun berat, tentu ini adalah salah satu perjalanan dan ikhtiar kita agar kelak di akhirat kita bisa mendapat tempat terbaik bersama para nabi dan rasul.
Baca juga: Ini Keistimewaan Shalat di Maqam Ibrahim

Kurban Sebagai Bentuk Meneladani Nabi Ibrahim as
Meneladani kisah Nabi Ibrahim tak lengkap bila kita tak mempraktikkan ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha. Menunaikan ibadah kurban bukan hanya meneladani Nabi Ibrahim, tetapi juga meneladani Nabi Muhammad Saw. Ibadah ini senantiasa mengingatkan kita tentang arti pengorbanan kepada Allah Swt. Bahwa, tidak ada iman dan takwa tanpa kita diuji dengan hal-hal yang paling kita cintai di dunia.
Melalui ibadah kurban, kita diminta untuk mengeluarkan harta serta hewan kurban sebagai simbol. Namun di balik itu semua, ada makna yang lebih dalam, yakni bukti ketakwaan dan keikhlasan atas apa pun takdir yang Allah Swt beri. Sahabat, semoga kita semua bisa melaksanakan ibadah kurban yang mulia di tahun ini.
Kurban Bersama Dompet Dhuafa
Sahabat ingin menunaikan ibadah kurban yang menjadi salah satu teladan dari kisah Nabi Ibrahim dengan maksimal? Kamu bisa memilih Dompet Dhuafa sebagai pelaksana dan penyalur kurbanmu! Ada empat kepastian yang bisa menenangkan batin dan pikiranmu bila berkurban bersama Dompet Dhuafa, apa saja itu?
Pertama, pasti jantan. Sudah pasti hewan kurbanmu jantan. Mengapa harus jantan? Karena Dompet Dhuafa memperhatikan keberlanjutan hewan ternak. Bila terlalu banyak hewan betina yang dijadikan hewan kurban, maka kemungkinan besar populasi hewan betina tidak seimbang, sehingga sulit untuk berkembang biak kembali.
Kedua, pasti lolos quality control. Dompet Dhuafa selalu memastikan kondisi fisik dan kesehatan hewan kurban baik dan berkualitas. Proses quality control telah melalui banyak tahapan, mulai dari menimbang beratnya, memastikan hewan kurban sehat, hingga memastikan hewan kurban tidak cacat sesuai dengan syariat.
Ketiga, pasti distribusi hingga pelosok negeri. Dompet Dhuafa berkomitmen mendistribusikan daging kurban ke wilayah-wilayah terpencil dan pelosok. Mengapa? Sebab, di tempat-tempat itu masih banyak warga yang belum bisa berkurban, sehingga tak bisa mengonsumsi daging. Menurut riset IDEAS, sebagian besar hewan kurban masih terpusat di kota-kota besar yang mana daging kurban berakhir menumpuk.
Keempat, pasti laporan ngebut. Proses berkurban di Dompet Dhuafa transparan dan amanah. Sebisa mungkin, kami melaporkan kondisi hewan kurban secara real time, mulai dari pemilihan, penyembelihan, hingga penyaluran daging kurban melalui sistem terintegrasi yang dapat diakses dengan mudah oleh kamu, para donatur.
Selain keempat nilai plus di atas, dengan berkurban melalui Dompet Dhuafa, kamu juga sudah turut memberdayakan para peternak lokal. Pasalnya, Dompet Dhuafa mengambil hewan-hewan ternak dari peternak lokal dengan tujuan membantu keberlanjutan usaha ternak mereka, sehingga ekonomi para peternak merata dan berjalan baik. Yuk, kurban sekarang! (RQA)

