Mengambil Hikmah dari Wabah Penyakit di Masa Rasulullah dan Umar Bin Khattab

Hampir seluruh dunia tengah dihadapkan pada pandemi Covid-19 yang berdampak ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk menangani secara spesifik virus yang baru muncul di tahun 2019 ini. Penyelesaian pun lebih kepada menghindari penularan dan penyebaran virus yang lebih masif lagi, mengingat virus Covid-19 ini adalah virus yang sangat mudah menular melalui droplet manusia.

Sebagai umat Islam, mungkin kita pernah bertanya-tanya. Apakah wabah atau pandemi seperti ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW dan para sahabat? Lantas jika pernah apa saja yang mereka lakukan untuk menyelesaikan hal tersebut? 

Walaupun Rasulullah SAW dan para sahabat hidup ribuan tahun sebelum kehidupan kita saat ini, setidaknya kita bisa mempelajari cara beliau untuk menangani sebuah masalah dan wabah, serta mengambil hikmah dari apa yang telah beliau lakukan di masa lalu. Karena sejatinya, seperti apa yang telah Allah sampaikan dalam Al-Quran, selalu ada hikmah dan kebenaran yang bisa diambil dari sejarah masa lalu, bagi orang-orang yang berpikir.

Berikut adalah beberapa wabah yang terjadi di masa Rasulullah dan sahabat, serta hal yang dilakukan oleh mereka dalam menangani wabah tersebut. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

Karantina Wilayah Saat Wabah Penyakit Kusta

Pada zaman Rasulullah SAW, pernah terjadi wabah penyakit kusta atau lepra. Mereka yang mengidap penyakit ini kulitnya akan mengkerut dan berubah bentuk akibat bakteri yang menggerogoti bagian tubuh. Penularan penyakit terjadi melalui cairan yang keluar dari hidung si penderita.

Mengenai wabah penyakit ini diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Dari Anas Ibn Malik bahwa Nabi SAW pernah berdoa dengan: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari penyakit buruk lainnya.” (HR. Abu Dawud)

Dalam mengindari wabah kusta yang terjadi, Rasulullah memberikan solusi untuk menghindari wilayah yang terkena wabah dan tetap berada di wilayah tempat kita tinggal. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”

Di masa sekarang, penyelesaian Rasulullah terhadap wabah tersebut sama halnya seperti pysichal distancing, melakukan PSBB, atau mungkin ada juga negara-negara yang memberlakukannya dengan lockdown. Fungsinya sama, yaitu mengurangi tingkat penyebaran virus.

Hal ini juga serupa dengan penyakit campak yang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits,

“Dari Asma’ berkata: Seorang wanita bertanya kepada Nabi SAW. katanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya puteriku menderita penyakit campak, hingga rambutnya rontok, sementara saya hendak menikahkannya, apakah saya boleh menyambung rambutnya? Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah melaknat orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung.” (HR. Al-Bukhari)

Hikmah yang bisa diambil adalah, jika rambut anak wanita tersebut tetap disambung, maka pernikahan itu akan terjadi. Sedangkan sang anak sedang menderita campak dan berpotensi menularkan pada yang lain, terlebih pernikahan pasti akan mengundang keramaian. Betapa pelajaran berharga dari peristiwa tersebut adalah, kita harus bersabar dan menjauhi keramaian sosial saat tengah mendapatkan sakit yang menular.

Mencari Awal Penyebab Penyakit Kudis

Penyakit kudis juga pernah mewabah di zaman Nabi Muhammad SAW. Penyakit tersebut menyebabkan gatal di kulit dan ditandai dengan ruam bintik jerawat atau bekas lepuhan. Penyebabnya adalah kutu kecil yang bersarang di kulit dan beranak pinak hingga menyebar dari satu orang ke orang lainnya.

Penyakit kudis di zaman Nabi Muhammad, pernah dikisahkan dalam hadits riwayat Ahmad, “Dari ‘Abd Allah Ibn Mas’ud r.a. ia berkata; Rasulullah saw. berdiri di hadapan kami, lalu bersabda: Tidak ada sesuatu yang dapat menulari yang lain. Ada seorang Arab pedalaman berdiri, kemudian ia membantah: Wahai Rasulullah, awal mula Kudis menyebar itu lewat mulut atau ekor seekor unta, lalu menyebar hingga unta yang lain menjadi kudisan semuanya. Kemudian, Rasulullah bersabda: Lantas, siapa yang menulari unta yang pertama tadi?” (HR. Ahmad)

Dari hadits tersebut, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menyikapi adanya wabah penyakit. Beliau mencari penyebab awal dan menanyakan siapa yang menulari unta pertama kali. Tentu saja hal itu untuk memutus mata rantai penyebaran agar tidak semakin menular pada yang lain. Jika penyebab awal diketahui tentu akan mudah untuk menangani dan menjauhi sumbernya.

Hal ini juga yang sebenarnya dapat kita lakukan saat terjadi wabah. Menginsolasi orang yang sudah terkena penyakit dan membatasi interaksi agar tidak menulari orang lainnya. Walaupun sulit, tapi inilah jalan terbaik yang bisa dilakukan.

Memutus Mata Rantai Penyebaran Wabah Tha’un Amwas

Pembatasan atau pengurangan tingkat penyebaran penyakit juga dilakukan oleh Umar bin Khattab pada saat terjadi wabah tha’un di masanya. Cerita ini dikisahkan dalam buku Biografi Umar bin Khattab karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi.

Pada saat itu, tahun 18 Hijriah, Umar bersama para sahabat melakukan perjalanan ke Syam. Di perbatasan, mereka mendapat sebuah kabar tentang penyakit yang menjangkiti wilayah tersebut. Penyakit ini bernama wabah Tha’un Amwas yang menyebabkan benjolan di seluruh tubuh. Jika benjolan terus tumbuh nantinya akan pecah, mengalami pendarahan, dan dapat berakhir pada kematian.

Gubernur Syam yang saat itu memimpin, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, segera mendatangi Umar di perbatasan dan menyampaikan kondisi tersebut. Umar pun tidak sampai masuk ke daerah Syam dan segera pulang ke Madinah. Umar mengirim perintah kepada Abu Ubaidah dan memintanya untuk menyelamatkan penduduk dari wabah. Para penduduk dibawa ke tempat yang aman dan tidak berpotensi untuk menularkan, yaitu ke dataran tinggi yang lebih luas dan udara yang bersih.

“Sesungguhnya Yordania adalah tanah yang dipenuhi rawa dan Al Jabiyah, tanah yang bersih dan jauh dari wabah penyakit, maka bawalah kaum muslimin ke sana," perintah Umar kepada Abu Ubaidah. Akibat wabah tersebut tercatat 20 ribu orang wafat, termasuk di dalamnya adalah Abu Ubaidah yang kakinya terkena luka dan tak sempat diselamatkan akibat wabah penyakit yang mengenai dirinya. Setelah penduduk diselematkan dan tinggal di pegunungan, wabah pun reda dan wilayah Syam kembali normal.

Itulah beberapa peristiwa wabah penyakit yang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab. Dapat kita ambil hikmah, bahwa di masa tersebut Rasulullah dan Umar mengambil keputusan yang benar. Mereka membatasi interaksi sosial, melakukan karantina wilayah, menyelamatkan penduduk dengan berada di wilayah yang aman, serta terus mencari penyebab penyakit tersebut agar mampu diselesaikan dari sumber utamanya.

Semoga ulasan ini bermanfaat untuk kita yang berada di situasi pandemi saat ini. Tetap jaga kesehatan, ambilah hikmah dan pelajaran dari masa lalu, semoga Allah senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit. Waulahuallam


Baca juga:



a:2:{s:2:

Eriska Rein Berbagi Keceriaan Bersa

Lihat Detail
Eriska Rein Berbagi
15 Nov 2020 14:25:12

[...]

a:2:{s:2:

Traktir Makan Saudaramu, Berbagi Ke

Lihat Detail
Traktir Makan Saudar
15 Nov 2020 13:46:11

JAKARTA -- Jelang hari raya Idul Fitri 1442 H, tak menyurutkan semangat relawan Dompet Dhuafa dan para donatur untuk terus berbagi kepada sesama. Pada hari Rabu (5/5/2021), Bank Sahabat Sam [...]

a:2:{s:2:

Salurkan Kado Yatim Untuk 30 Santri

Lihat Detail
Salurkan Kado Yatim
15 Nov 2020 17:56:58

CIBINONG, BOGOR -- Pada Sabtu (1/5/2021), relawan Dompet Dhuafa menyalurkan Kado Yatim di Asrama Tahfidz Yatim dan Dhuafa Bani Ibrahim Al-Faridz, Cibinong, Bogor. Disana, terdapat sebanyak 30 [...]


Tuliskan Komentar